Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

Masjid Al Safar, Purwakarta, West Java, Indonesia

Location :  Rest Area KM 88 B Tol Cipularang, West Java, Indonesia

Description : Masjid Al Safar indah berdiri di rest area KM 88 B Tol Cipularang, Jawa Barat. Masjid rancangan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil ini punya desain unik dan bentuknya mirip topi adat Sunda.

Masjid Al Safar diresmikan Jasa Marga pada Jumat (19/5/2017). Pria yang akrab disapa Kang Emil hadir dalam peresmian itu.

Masjid Al Safar rancangan Ridwan Kamil.Masjid Al Safar rancangan Ridwan Kamil. Foto: Foto: Istimewa Jasa Marga


Ridwan Kamil mengatakan Masjid Al Safar merupakan masjid kedua yang dirancangnya. Menurut dia, masjid tersebut bagaikan sebuah permata yang akan tetap bersinar pada malam hari.

"Namun, sebaik-baiknya masjid adalah masjid yang makmur oleh para jamaah," tutur Kang Emil dalam siaran pers yang diterima wartawan, Jumat (19/5/2017).

Masjid ini memiliki luas 6000 meter persegi dan dapat menampung 1.200 jemaah.Masjid ini memiliki luas 6000 meter persegi dan dapat menampung 1.200 jemaah. Foto: Foto: Istimewa Jasa Marga


Masjid tersebut memiliki luas 6.000 meter persegi dan mampu menampung hingga 1.200 jemaah. Terdapat fasilitas lengkap di dalamnya seperti toilet, tempat wudhu hingga taman dan kolam yang menambah sejuk.

Bangunan masjid yang unik ini diharapkan menjadi ikon di rest area KM 88 B Tol Cipularang (Jakarta arah Bandung). Sesuai dengan namanya, Al Safar atau perjalanan, kehadiran masjid tersebut diharapkan memberikan manfaat kepada pengguna tol yang beristirahat di rest area tersebut untuk melepas lelah dalam perjalanan.

Direktur Utama Jasa Marga, Desi Arryani, yang meresmikan Masjid Al Safar mengungkapkan rasa syukur atas diresmikannya masjid tersebut. Masjid tersebut diklaim sebagai masjid terbesar di rest area se-Indonesia.

Masjid ini diklaim terbesar di rest area se-Indonesia.Masjid ini diklaim terbesar di rest area se-Indonesia. Foto: Foto: Istimewa Jasa Marga


"Saya bersyukur akhirnya masjid ini bisa diresmikan. Saya juga berharap ke depannya Masjid Al Safar akan tetap makmur dan barokah, mulai dari bulan Ramadan hingga seterusnya," tutur Desi.

Ke depan, Jasa Marga juga akan mengembangkan fasilitas di rest area KM 88B ini agar lebih ramai dan mendukung kelancaran di jalan tol. Jasa Marga berkomitmen terus berupaya meningkatkan pelayanan kepada pengguna jalan melalui optimalisasi fasilitas di rest area. 


Source: detik.com

Minggu, 03 Desember 2017

Masjid Raya Al-Abror, Kota Padang Sidimpuan, Sumatera Utara, Indonesia


Location : Jl. Mesjid Raya Baru WEK IV, Kota Padang Sidimpuan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Indonesia.
Description :
  • Tipe : MASJID NEGARA
  • Luas Tanah : 20.400 m2
  • Status Tanah : Wakaf
  • Luas Bangunan : 1.089 m2
  • Tahun Berdiri : 1966
  • Fasilitas : Parkir, Taman, Gudang, Tempat Penitipan Sepatu/Sandal, Ruang Belajar (TPA/Madrasah), Aula Serba Guna, Perlengkapan Pengurusan Jenazah, Poliklinik, Perpustakaan, Kantor Sekretariat, Penyejuk Udara/AC, Sound System dan Multimedia, Pembangkit Listrik/Genset, Kamar Mandi/WC, Tempat Wudhu, Sarana Ibadah , CCTV
  • Kegiatan : Pemberdayaan Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf, Menyelenggarakan kegiatan pendidikan (TPA, Madrasah, Pusat Belajar Masyarakat), Menyelenggarakan Pengajian Rutin, Menyelenggarakan Dakwah Islam/Tabliq Akbar, Menyelenggarakan Hari Besar Islam, Menyelenggarakan Sholat Jumat, Menyelenggarakan Ibadah Sholat Fardhu , CCTV, Kantor BAZNAS KOta Padangsidimpuan
     
    Source : 

Jumat, 08 April 2016

Masjid Raya Ganting, Padang, West Sumatera, Indonesia

Location : Kelurahan Ganting, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia

Description : Masjid Raya Ganting (juga ditulis dan dilafalkan Gantiang dalam bahasa Minangkabau) adalah sebuah masjid yang terletak diKelurahan Ganting, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Mulai dibangun pada tahun 1805, masjid ini tercatat sebagai masjid tertua di Padang dan salah satu yang tertua di Indonesia serta telah menjadi cagar budaya.

Masjid yang pembangunannya melibatkan beragam bangsa ini menjadi pusat pergerakan reformasi Islam di daerah tersebut pada abad ke-19, dan presiden pertama Indonesia, Soekarno, pernah mengungsi ke masjid ini pada masa perjuangan kemerdekaan. Masjid ini termasuk bangunan yang tetap utuh setelah gelombang tsunami menerjang kota Padang dan sekitarnya akibat gempa bumi tahun 1833, walaupun mengalami kerusakan cukup berarti akibat gempa tahun 2005 dan2009.

Saat ini, selain digunakan sebagai aktivitas ibadah umat Islam, masjid satu lantai ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan agama dan pesantren kilat bagi pelajar serta menjadi salah satu daya tarik wisata di kota Padang.

Pembangunan

Tidak diketahui pasti tahun berapa masjid ini mulai berdiri. Menurut Abdul Baqir Zein dalam bukunya yang berjudul Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia, masjid ini telah berdiri sejak tahun 1700 dan pada mulanya terletak di kaki Gunung Padang, kemudian dipindahkan ke tepi Batang Arau karena Belanda hendak membuat jalan ke pelabuhan Teluk Bayur, hingga terakhir dipindahkan ke lokasi sekarang. Namun, dalam dokumen yang diterbitkan oleh Departemen Agama, disebutkan masjid ini dibangun pada tahun 1790 dari bahan kayu dengan atap berbahan rumbia dan masjid yang lebih baik lagi dibangun pada tahun 1805. Lain lagi menurut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang, yang menyebut masjid ini mulai dibangun pada tahun 1805 dan awalnya dikenal sebagai "Masjid Kampung Gantiang" dengan bangunan berupa surau berlantaikan batu dengan dinding berplester tanah dan atap berundak-undak.

Terlepas dari perbedaan-perbedaan mengenai tahun mulai berdirinya masjid ini, dari sejumlah catatan diketahui bahwa pembangunan masjid di pusat Minangkabau di Padang abad ke-18 dan ke-19 ini diprakarsai oleh tiga tokoh masyarakat setempat, yaitu Angku Gapuak (saudagar), Angku Syekh Haji Uma (kepala kampung Ganting), dan Angku Syekh Kapalo Koto (ulama), sementara biayanya banyak diperoleh dari para saudagar dan ulama Minangkabau di sejumlah tempat di Sumatera. Masjid ini juga tercatat sebagai salah satu bangunan yang tetap utuh dari terjangan gelombang tsunami yang merambah sebagian besar Padang akibat gempa bumi Sumatera pada tahun 1833, hanya saja lantai batunya kemudian diganti dengan lantai campuran kapur kulit kerang dan batu apung.


Masjid Raya Ganting sebelum memiliki dua menara sekitar tahun 1900–1923

Pada tahun 1910, Belanda mendirikan pabrik semen di Indarung, Padang. Untuk mentranspor semen ke Pelabuhan Teluk Bayur, Belanda membuka jalan batu melewati tanah Masjid Raya Ganting. Hampir sepertiga dari luas tanah wakaf untuk masjid ini digunakan untuk jalan. Sebagai kompensasi atas tanah tersebut, Belanda membantu mengembangkan masjid ini melalui Komandan Korps Genie wilayah Pesisir Barat Sumatera (wilayah yang meliputi Sumatera Barat dan Tapanuli sekarang).Pengembangan yang dilakukan termasuk perpanjangan bilik muka sepanjang 20 meter dan pembuatan bagian depan (fasad) masjid bergaya Portugis. Selain itu, lantai masjid diganti dengan semen yang didatangkan dari Jerman. Pada tahun 1900, dimulailah pemasangan tegel dari Belanda yang dipesan melalui NV Jacobson van den Berg. Pemasangan tegel tersebut ditangani oleh tukang yang ditunjuk langsung oleh pabrik dan selesai pada tahun 1910.

Sementara itu, etnis Cina di bawah komando Kapten Lo Chian Ko ikut mengerahkan tukang-tukang Cina untuk mengerjakan kubah yang dibuat persegi delapan mirip atap vihara. Begitu juga, pada mihrab tempat imam memimpin salat dan menyampaikan khotbah dibuat ukiran kayu mirip ukiran Cina. Di bagian tengah masjid juga dibangun sebuah muzawir berukuran 4 × 4 m² berbentuk panggung dari kayu dan diberi ukiran Cina. Muzawir berfungsi sebagai tempat mengumandangkan adzan dan penyambung suaraimam sehingga makmum dapat mengikuti gerakan imam. Setelah ada pengeras suara, muzawir tidak digunakan lagi sehingga pengurus masjid membongkar bangunan tersebut pada tahun 1974 (atau 1978).

Setelah itu, pembangunan masjid dilanjutkan pada tahun 1960 dengan pemasangan keramik pada 25 tiang ruang utama yang aslinya terbuat dari batu bata. Kemudian,menara pada bagian kiri dan kanan masjid selesai dibangun pada tahun 1967. Pada tahun 1995, dilakukan pemasangan keramik pada dinding ruang utama.

Garis waktu

Masjid Raya Ganting turut berperan dalam perjalanan sejarah Kota Padang. Selain sebagai lokasi pengembangan Islam di pulau Sumatera, masjid ini juga berperan dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan di Padang.

Sejak awal berdirinya, masjid ini dimanfaatkan sebagai tempat bimbingan manasik calon haji. Masjid ini juga menjadi tempat embarkasi haji pertama di Sumatera Tengahmelalui Pelabuhan Teluk Bayur yang dibuka pada tahun 1895. Sebelum berakhirnya perang Padri, pada tahun 1918, para ulama di Minangkabau mengadakan pertemuan di Masjid Raya Ganting untuk membahas langkah-langkah yang akan ditempuh dalam melaksanakan pemurnian ajaran agama Islam dari pemahaman mistik dan khufarat.

Pada tahun 1921, Abdul Karim Amrullah mendirikan sekolah Thawalib di dalam pekarangan masjid sebagai sarana pendidikan agama bagi masyarakat kota Padang saat itu, yang alumninya kemudian mendirikan Persatuan Muslim Indonesia (Permi) yang merupakan cikal bakal Partai Masyumi. Masjid ini juga dijadikan lokasi jambore nasional pertama gerakan kepanduan Muhammadiyah Hizbul Wathan pada tahun 1932.

Ketika Jepang mulai menduduki Indonesia pada tahun 1942, Soekarno yang ditahan Belanda di Bengkulu diungsikan ke Kutacane. Namun, sesampainya di Painan, tentara Jepang sudah lebih dahulu menduduki Bukittinggi sehingga Belanda mengubah rencana semula dengan mengungsi ke Barus dan meninggalkan Soekarno di Painan. Selanjutnya, Hizbul Wathan, yang saat itu bermarkas di Masjid Raya Ganting, menjemput Soekarno untuk dibawa ke Padang dengan menggunakan pedati. Beberapa hari kemudian, Soekarno yang telah tiba di Padang menginap sementara waktu di salah satu rumah pengurus Masjid Raya Ganting dan sempat memberikan pidato di masjid ini.


Sebagian kerusakan yang dialami Masjid Raya Ganting setelah gempa bumi tahun 2009

Selama pendudukan tentara Jepang di Indonesia, masjid ini dijadikan sebagai markas besar wilayah Sumatera Barat dan Tengah sekaligus tempat pembinaan prajurit Gyugun dan Heiho, yang merupakan kesatuan tentara pribumi yang dibentuk oleh Jepang. Anggota perwira militer Gyugun terdiri atas para ulama, sedangkan prajurit Heiho diambil dari para santri.

Setelah tentara Sekutu mendarat di Sumatera, banyak tentara Inggris dari kesatuan tentara Muslim India membelot dan bergabung dengan tentara rakyat setempat. Mereka mengatur strategi penyerangan dari masjid ini, termasuk penyerangan ke salah satu tangsi militer Inggris dari kesatuanGurkha. Ketika seorang prajurit Muslim itu tewas dalam perkelahian di markas militer yang hanya berjarak 200 meter dari masjid, jenazahnya disemayamkan di Masjid Ganting.

Sejak tahun 1950, Masjid Raya Ganting mulai banyak dikunjungi oleh pejabat negara baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sejumlah pejabat negara yang pernah berkunjung ke masjid ini, antara lain, adalah Wakil Presiden Mohammad Hatta, Menteri Pertahanan Sultan Hamengkubuwana IX, Wakil Ketua DPR-GR Achmad Syaichu, dan Ketua MPRS Abdul Haris Nasution. Sementara itu, tokoh luar negeri yang pernah mengunjungi masjid ini, antara lain, adalah Sekretaris Negara Malaysia serta pejabat dari Arab Saudi dan Mesir.

Pada 10 April 2005, terjadi gempa bumi di pantai barat Sumatera dengan kekuatan 6,7 skala Richter setelah terjadinya gempa bumi lebih besar di sekitar Pulau Nias dua minggu sebelumnya. Sejumlah tiang penyangga utama kuda-kuda atap Masjid Raya Ganting retak dan patah akibat gempa ini.

Selanjutnya, masjid ini merupakan salah satu dari 608 unit tempat ibadah di Sumatera Barat yang rusak berat akibat gempa bumi 30 September 2009. Selain meruntuhkan sebagian fasad masjid, gempa tersebut juga meretakkan tiang-tiang ruang utama sehingga bangunan ini dikhawatirkan roboh. Sebelum dilakukan renovasi pada tahun 2010, kerusakan yang dialami masjid ini menyebabkan aktivitas ibadah terganggu sehingga, selama sementara waktu, aktivitas ibadah harus dilakukan di halaman masjid.

Pada tahun 2011, masjid ini dimasukkan dalam daftar masjid terindah di Indonesia yang diterbitkan dalam buku 100 Masjid Terindah Indonesia oleh PT Andalan Media. Selain Masjid Raya Ganting, masjid lain dari Sumatera Barat yang dimuat dalam buku tersebut ialah Masjid Raya Bayur.

Arsitektur

Atap tumpang Masjid Raya Ganting, seperti yang umum dimiliki masjid-masjid tua di Nusantara

Masjid ini berdiri di atas tanah seluas 102 × 95,6 meter persegi dengan bangunan berbentuk persegi panjang berukuran 42 × 39 meter persegi. Bangunan terdiri dari serambi muka, serambi samping (kiri dan kanan), mihrab, dan ruang utama. Luas bangunan yang kurang dari seperlima luas lahan menyisakan halaman yang luas yang dapat menampung banyaknya jamaah pada saat pelaksanaan salat Ied pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Halaman tersebut dipagari besi dan berbatasan langsung dengan jalan rayadi sebelah timur dan utara. Di sebelah selatan dan belakang masjid terdapat beberapa makam, salah satunya adalah makam Angku Syekh Haji Uma, satu dari tiga orang pemrakarsa pembangunan masjid ini.

Perpaduan arsitektur dari berbagai corak terlihat jelas pada bangunan masjid ini karena pengerjaannya melibatkan beragam bangsa seperti Eropa, Timur Tengah, Cina, dan Minangkabau. Masjid ini memiliki tatanan atap berupa atap susun berundak-undak sebanyak lima tingkat dengan puncak berkubah berhiaskan mustaka. Ada celah di tiap bagian atap untuk pencahayaan. Tingkat pertama berbentuk persegi, sedangkan tingkat dua sampai empat berbentuk segidelapan.

Serambi atau bilik
Tiang ganda berbentuk silinder yang berjejer tujuh di serambi muka

Bangunan masjid ini memiliki dua serambi utama, yaitu serambi samping dan serambi muka. Kedua serambi samping masing-masing berukuran 30 × 4,5 meter persegi dan memiliki dua pintu masuk, yang salah satu pintunya menuju ke tempat wudu yang terdapat di sisi utara dan selatan. Pada bagian barat terdapat sekatan yang membentuk kamar atau ribath (tempat tinggal pengurus masjid) berukuran 4,5 × 3 m². Ribath tersebut memiliki pintu dari arah timur berukuran 225 cm × 90 cm dan jendela berukuran 90 cm × 90 cm. Serambi muka berbentuk persegi panjang berukuran 12 × 39 m² serta memiliki enam pintu dari arah timur dan dua pintu dari arah utara dan selatan, yang masing-masing berdaun pintu dari jeruji besi. Terdapat hiasan tiang ganda semu pada enam pintu dari arah timur, kecuali pada bagian tengah yang merupakan bangunan mimbaryang menjorok ke depan dengan daun pintu dari jeruji pula. Mimbar berukuran 220 cm × 120 cm × 275 cm tersebut hanya digunakan pada pelaksanaan salat Ied. Selain pintu, juga terdapat masing-masing satu jendela dengan terali besi di sisi utara dan selatan.

Di dinding timur serambi muka, terdapat hiasan ukiran geometri berupa panil-panil yang berbentuk persegi panjang dan bujur sangkar. Terdapat pula hiasan lengkung yang ditutupi tembok dengan motif cincin dan mata kapak. Tebal dinding sekitar 34 cm dengan tinggi 320 cm. Di dalam ruangan terdapat tujuh tiang ganda berbentuk silinder dari beton dengan garis tengah 45 cm. Tiang-tiang tersebut berdiri di atas umpak beton dengan lebar 113 cm, tinggi 70 cm, dan tebal 67 cm. Selain itu, terdapat pula dua tiang berbentuk segi empat yang terletak di sisi utara dan selatan, dekat dengan ruangan berbentuk segi delapan yang memiliki satu pintu dari arah timur dan satu jendela.

Ruang utama
Langit-langit masjid di ruang utama disangga oleh 25 tiang, sama seperti jumlahnabi dan rasul.

Ruang utama masjid berbentuk persegi berukuran 30 × 30 meter persegi dengan empat pintu masuk di sisi timur dan masing-masing dua pintu di sisi utara dan selatan. Pintu berukuran 160 cm × 264 cm tersebut memiliki dua daun pintu dari kayu dengan hiasan lengkung kipas pada ambang atas. Terdapat pula dua jendela yang terbuat dari kayu di sisi timur mengapit pintu masuk, dan masing-masing tiga jendela di sisi utara dan selatan, serta enam jendela di sisi barat. Jendela-jendela tersebut memiliki panjang 160 cm dan tinggi 2 m. Seperti pada pintu, bagian ambang atas jendela juga berbentuk lengkung kipas. Dinding pada ruang utama terbuat daribeton berlapis keramik, sedangkan lantainya dari tegel putih berhiaskan bunga.

Di ruang utama juga, terdapat soko guru atau tiang utama berjumlah 25 yang berbentuk segi enam dengan diameter 40 sampai 50 cm dan tinggi mencapai 420 cm. Tiang-tiang yang terbuat dari bata merah dengan bahan perekat kapur dicampur putih telur ini sama sekali tidak menggunakan tulang besi. Jumlah 25 tiang berjajar 5 melambangkan 25 nabi, dan masing-masing tiang dilapisi marmer putih berhiaskan kaligrafi yang memuat nama 25 nabi mulai dari Adam sampai Muhammad. Tiang-tiang tersebut berfungsi sebagai penopang utama konstruksi atap masjid yang berbentuk segi delapan.

Pada sisi barat ruang utama terdapat mihrab yang diapit oleh dua kamar di sisi utara dan selatan. Mihrab tersebut berukuran 2 m × 1,5 m dengan tinggi pada sisi timur 320 cm dan sisi barat 210 cm.

Bangunan lain
Masjid ini memiliki tempat wudu berukuran 10 m × 3 m yang terletak di sebelah utara dan selatan serambi samping. Tempat wudu ini dibangun pada tahun 1967 serta dibuat permanen dan tertutup. Selain itu, perpustakaan masjid menempati sebuah ruangan di sisi utara masjid dan masih menyatu dengan bangunan masjid. Di sekitar masjid juga terdapat tiga gedung tempat bimbingan teori manasik calon haji. Salah satu dari tiga gedung tersebut dulunya ditempati sekolah Thawalib.

Source : https://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Raya_Ganting
Photo Credit : https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/d/d5/Masjid_Raya_Ganting_19-3.JPG

Rabu, 30 Januari 2013

Masjid Soko Tunggal, Yogyakarta, Indonesia

Location: Tamansari, Kampung taman, keraton Yogyakarta, Indonesia.
Description: Masjid ini dirancang oleh seorang abdi dalem kraton yakni Raden Ngabehi Mintobudoyo, dan dibangun dengan luas 288 meter persegi dengan menggunakan tanah wakaf dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX seluas 900 meter persegi. Masjid ini dapat menampung kurang lebih 600 jamaah. Sesuai dengan namanya Sokotunggal maka didalam akan kita jumpi satu tiang penyangga dengan bahan kayu jati berukir. Kayu jati ini didatangkan langsung dari Cepu, jawa tengah dan saat di tebang ini usia pohon jati tersebut 150 tahun. Dan untuk ukirannya adalah hasil karya seorang mahasiswa ASRI jurusan ukir bernama Sutarno. Ukiran yang dibuat mengandung makna filosofi yang mendalam, salah satunya yakni motif tumetesing embun yang bermakna siapaun yang mendirikan sholat di masjid ini akan mendapat barokah dari Allah SWT. Motif lainnya yakni Putri Mirong yang tampil dengan motif simbolik berupa nisan. Hal ini mempunyai makna bahwa manusia selalu ingat dan siap menghadapi kematian.
Source : http://yogyakarta.panduanwisata.com/wisata-religi/masjid-soko-tunggal-merupakan-filosofi-kehidupan/

Sabtu, 19 Januari 2013

Masjid Cheng Ho at Palembang City, South Sumatera

Location : Palembang City, South Sumatera
Description : Hajj Muhammad Cheng Ho not only visit Java Island and build a Masjid at Surabaya City, but He also visit Sumatera Island, the second biggest island after Kalimantan, and built a Masjid there. This Masjid named Masjid Cheng Ho too, to appreciate him for introducing Islam there. It located at Palembang City, South Sumatra. Like his brother in Surabaya, Masjid Cheng Ho Palembang build in Tiongkok style architecture somewhat like combination between Klenteng (Kong Hu Chu temple) style and Islam.
Source : http://islam-pilihan-ku.blogspot.com/p/blog-page.html

Rabu, 25 Januari 2012

Masjid Bakrie, Jakarta, Indonesia

Location : Rasuna Said Jakarta, Indonesia
Description:
Mesjid ini dibangun di atas lahan seluas 3.200 meter persegi dan memiliki luas bangunan sebesar kurang lebih 1.000 meter persegi, yang lokasinya terletak di komplek Apartemen Taman Rasuna Jl. HR. Rasuna Said Jakarta - Selatan.v
Mesjid yang memiliki desain dengan gaya arsitektur Mesjid Medan ini dapat menampung kurang lebih 1.000 orang jamaah, terdiri atas bangunan dalam dua lantai, juga dilengkapi dengan fasilitas balai pertemuan, perpustakaan dan ruang sekertariat.


1. Lantai semi basement dengan luas 532,02 m2
2. Lantai dasar dengan luas 464,33 m2
3. Lantai mezanin dengan luas 418,97 m2
4. Menara 42,95 m2 +
Total 1.458,27 m2


Source: http://www.masjidalbakrie.com/

Selasa, 24 Januari 2012

Rabu, 06 Mei 2009

Senin, 12 Mei 2008

Senin, 14 April 2008

Selasa, 11 Maret 2008

Senin, 31 Desember 2007

Masjid Kudus, Indonesia



Location : Kudus, Indonesia
Description : Menara Masjid Kudus yang meminjam bentuk candi.
Source : http://iwanismail.blogspot.com/2006/12/sheikh-abdal-hakim-murad-2nd-entry.html


Senin, 17 Desember 2007

Masjid Agung, Palembang, Indonesia

Location: Palembang, Indonesia
Description: Mesjid Agung Palembang yang terletak di pusat kota juga merupakan salah satu peninggalan Kesultanan Palembang. Mesjid ini didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I atau Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikramo mulai tahun 1738 sampai 1748.
Ukuran bangunan mesjid waktu pertama dibangun semula seluas 1080 meter persegi dengan daya tampung 1200 jemaah. Perluasan pertama dilakukan dengan wakaf Sayid Umar bin Muhammad Assegaf Altoha dan Sayid Achmad bin Syech Sahab yang dilaksanakan pada tahun 1897 dibawah pimpinan Pangeran Nataagama Karta mangala Mustafa Ibnu Raden Kamaluddin.
Perluasan kedua kali pada tahun 1930. tahun 1952 dilakukan lagi perluasan oleh Yayasan Mesjid Agung yang pada tahun 1966-1969 membangun tambahan lantai kedua sehingga luas mesjid sampai sekarang 5520 meter persegi dengan daya tampung 7.750.
Source: http://www.dipardass.go.id/index.php?page=content&label_mnu=mesjid-agung-palembang

Rabu, 21 November 2007

Masjid Istiqlal, Jakarta, Indonesia

Location: Jakarta, Indonesia

Senin, 19 November 2007

Masjid Raya, Medan, North Sumatra

Location: Medan, North Sumatera, Indonesia